Rabu, 16 Februari 2011

heartbeat

saat khilaf kualami

saat kesalahan yang terjadi

hanya bisa berkata 'sorry'

keakraban yang mungkin berlebihan

kedekatan yang mungkin menyakitkan

buatku merenungkan

apakah aku harus menjaga jarak aman?

ketergantungan

adiksi

dependensi

kerinduan



sosok yang mampu memberi

contoh dan teladan sehari-hari

kini menjadi duri

yang akan sulit untuk pergi



apakah aku berlebihan?

mengharap kehadiran sesosok kakak

merindukan sesosok adik

yang tidak kudapati

berlebihankah?

terlalu sulitkah?



ataukah

aku memang ditakdirkan begini?

dilahirkan dalam keluarga yang tak mau peduli

bahkan 'teman' dan 'sahabat' pun menjauhi

lagi-lagi sendiri

sendiri dan hanya sendiri

selalu sendiri



kutukan kesendirian yang tak tertahankan

aku muak!

aku bosan!

ingin kuakhiri semua



tapi aku ragu

ke mana langkah yang kutuju

apakah ke sana, ataukah ke situ

lemah letih lesu



masa depan

apakah aku punyai itu?

tidak bisa mengharapkan

tidak bisa diharapkan

harapan hanya akan menjadi candu

yang tidak layak didapatkan oleh orang lemah



terlebih lagi bagiku

siapa aku?

sampai berani berharap muluk-muluk

harapanku hanyalah palsu

yang hanya akan hancur terhempas ke karang padas dan batu

siapa kau?

kau tidak layak dapatkan harapan itu!

di sini harapan tidak laku!

angan-angan hanya akan menjadi bau!

mimpi akan segera busuk!



inikah realita hidupku?

inikah takdirku?

inikah nasibku?

dihempaskan oleh mimpiku

mimpi yang semu.



ah..

melantur.

tapi lanturan dan lamunan adalah ekspresi

ekspresi dan ungkapan jiwa

jiwa yang hancur

merana..